Generasi Analog VS Generasi Digital

Siapa yang tidak kenal Yahoo! Messanger, MSN, Friendster, Facebook, Youtube hingga Blogspot dan Multiply ? Kalau kamu mengaku anak muda yang ngga gaptek alias gagap teknologi, tentunya istilah di atas bukan hal yang asing, bahkan sudah menjadi “menu wajib” kita sehari-hari.

Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa kamu sebagai anak muda sekarang hidup dalam era digital, sehingga tidaklah salah kalau kita seringkali disebut sebagai generasi digital. Chatting dapat kita lakukan dimana saja berkat teknologi 3G, internet bukan lagi barang mahal, bahkan sekarang dengan selembar uang plastik merah kita dapat memperoleh koneksi internet tanpa batas sebulan penuh. Lalu, benarkah kamu sebagai anak muda yang melek teknologi ini menjadi apatis alias cuek terhadap lingkungan ?

Bukan satu dua kali pastinya kamu mendengar teguran orangtuamu yang memperingatkan agar mengurangi waktu bermain internet, atau ber-SMS ria dengan teman-temanmu. Pembatasan hingga pencabutan fasilitas internet menjadi ‘ancaman’ yang ‘mau tidak mau’ membuatmu pada akhirnya harus merelakan kesenangan kita berchatting, mengurangi serunya berbalas comment di situs Friendster, bahkan asyiknya mendownload lagu lagu-lagu favorit dari Youtube pun harus dibatasi.

Dan sebagai gantinya mereka memintamu keluar dari karnet (alias kamar internet) yang super nyaman itu dan berkumpul dengan mereka sekedar untuk menonton televisi dan ngobrol atau (yang menurutmu lebih menyebalkan lagi) menyuruhmu mengerjakan PR serta belajar.

Kekhawatiran orangtua

Majalah Time (19/3/2008) menyebutkan bahwa dengan stimulasi SMS, MP3, telepon, dan chatting, yang bersifat terus-menerus pada anak-anak akan terbentuk ketidakpekaan dan ketidakacuhan saat mereka berusia 25 atau 30 tahun nanti. Ya, tidak terelakkan lagi, inilah kekhawatiran orang tua (kita sebut saja dengan ‘Generasi Analog’ terhadap generasi digital hari-hari ini.

Terlalu berlebihankah kekhawatiran orang tuamu? Kadang kita sebagai anak muda yang melek teknologi menganggap orangtua kita kuno dan ketinggalan jaman bahkan tidak mengerti dunia kita. Sebenarnya itu adalah kekhawatiran yang wajar manakala kualitas hubungan dengan orangtua kita menuju ke titik kritis. Karena bagaimanapun orangtua kita tetap mengharapkan kita memiliki koneksi yang baik dengan mereka, bukan hanya dengan teman teman kita di dunia maya.

“Jadi, haruskah aku melepaskan dunia digital dan kembali kepada dunia analog atas nama berbakti kepada orang tua?” Mungkin itu pertanyaan yang terbersit dalam pikiranmu. Tentu saja tidak. Bersembunyi dari teknologi menunjukkan bahwa kamu menyerah pada keadaan. Dan itu sama sekali bukan ciri generasi maju. Tentunya sebagai anak muda yang smart dan beretika, kamu mampu untuk memadukan perbedaan pandangan dan kepentingan yang (pasti) terjadi antara kamu (generasi digital) dan orangtuamu (generasi analog).

Mendamaikan Generasi Digital vs Generasi Analog

Karena kita tidak mungkin menuntut orang lain (orangtua.red) untuk berubah, dan perubahan itu hanya bisa dimulai dari diri kita sendiri; jangan sampai perubahan dunia yang semakin maju tidak diikuti oleh perubahan pikiran (dan sikap) yang menuju pada kemajuan.

So, gimana caranya mendamaikan Generasi Digital vs Generasi Analog (Ingat bahwa dalam hal ini kitalah yang harus berubah terlebih dahulu) :

1. Sadari dan pahamilah bahwa mereka berasal dari dunia yang berbeda
Sama dengan keherananmu dengan kesukaan mereka terhadap lagu keroncong misalnya, demikianlah pula keheranan mereka terhadap begitu sukanya kita “ngobrol dengan komputer”. Inilah hal pertama yang sangat penting kamu lakukan, tanpanya rumahmu akan menjadi arena perang antar dua generasi setiap harinya.

2. Sediakan waktu untuk berkumpul bersama keluarga.
Jangan lupa bahwa kamu adalah seorang anak yang notabene dalam adat ketimuran masih ada dalam tanggung jawan orangtua kita. Jadi sangatlah wajar kalau mereka mengharapkan menatap wajah kita (bukan hanya mendengar suara kita) dan mengetahui kabar kita. Toh itulah salah satu tanda perhatian mereka kepada kita. Tentunya kita tidak mau kalau kita diabaikan kan ?

3. Kerjakan tanggung jawabmu sebagai pelajar dengan baik
Mencari bahan tugas di internet bukan menjadi alasan untuk berlama-lama di depan komputer tanpa tujuan (apalagi hanya untuk bermain game online). Ingatlah bahwa kalau orangtuamu (yang bisa jadi bahkan tidak mengerti tentang internet) memberimu fasilitas internet (atau mengizinkanmu ke warnet), itu karena mereka percaya bahwa kamu adalah anak yang bisa dipercaya. So, lakukan tanggung jawabmu sebagai pelajar dengan baik dan jangan sia-siakan pekercayaan mereka.

4. Bermainlah bersama orangtuamu (hah…ngga salah nih ?)
Tentu saja tidak sobat muda. Mungkin kamu berpikir bahwa akan membuang banyak waktu untuk mengajarkan orangtuamu YM, Facebook, dll sedangkan untuk sms saja mereka seringkali masih kesulitan. Namun dengan mengikutsertakan mereka dalam aktivitasmu di dunia maya akan meningkatkan kepercayaan mereka terhadapmu serta menunjukkan bahwa kamu mengasihi dan menghormati mereka. Tentunya kamu juga akan lebih suka kalau kamu punya orangtua yang lebih ‘gaul’ kan ya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: